Deby Vertisa

G14100039

Laskar 2

Don’t give up

Juni 2007, bulan yang sangat menentukan bagiku untuk masa depanku nanti. Sudah dua SMA negeri yang saya datangi dan NEM saya tak mencukupi untuk memasuki SMA itu. Padahal hanya itu SMA favorit yang ada di daerahku. Ini hari terakhir pendaftaran untuk SMA negeri. Tinggal lima menit lagi dan saya harus memburu waktu agar pendaftaran di SMA lain tidak ditutup. Ya. Sekolah terakhir yang saya datangi ternyata masih menerima NEM saya. Sekolah yang tak pernah ingin saya tempati. Tapi kenyataan berkata lain. Saya harus menaungi pendidikan saya di sini.

Penyesalan memang tak ada gunanya. Dan di tempat inilah saya harus bertahan. Saya bertekad untuk menjadi yang terbaik. Satu tahun berlalu. Dan saya mampu menjawab tantangan diri saya. Saya mampu bertahan di sini. Saya mampu menyesuaikan hati saya dengan sekolah saya. Dan saya mampu mencintai sekolah saya. SMA Negeri 1 Sukaresmi. Di sini saya merasakan kesempatan-kesempatan yang mungkin tak kan pernah saya dapatkan. Walaupun saya tak selalu jadi yang terbaik.

Satu pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran saya. Akan kemana lagi saya setelah lulus SMA? Teman-teman saya sudah menentukan pilihan mereka mau masuk ke unversitas mana. Sementara saya, keinginan untuk masuk ke perguruan tinggi sangat tinggi, tapi keadaan finansial tidak mendukung. Saat pendataan di kelas dua SMA, saya diberi pertanyaan oleh wali kelas saya. “Mau lanjut ke mana nanti?”. “Mungkin kerja dulu Pak. Kalau nanti ada rezeki, insya Allah kuliah.” Hanya itu yang keluar dari mulutku. Sangat pahit rasanya harus mengatakan ‘kerja’ sementara hatiku begitu ingin kuliah.

Tingkat tiga SMA, kembali pertanyaan itu dilontarkan oleh guru saya. Hanya saja kali ini yang bertanya berbeda orang dan berbeda pula reaksinya. “pengen mah pengen Bu kuliah teh. Tapi da gimana lagi atuh? Ga ada uangnya juga.” Dan air mataku tak dapat ku bendung lagi. “Deby, ibu paling tidak suka kepada anak yang menyerah begitu saja. Ibu tidak suka kepada anak yang pola fikirnya mampu untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tnggi, tapi menyerah pada keadaan yang tidak mendukung. Kenapa tidak mencoba memaksa keadaan untuk mendukung kita? Uang itu dapat dicari. Yang penting kemauan dan tekad yang kuat dari diri kita. Kamu percaya bahwa Tuhan tak pernah mendzalimi umat-Nya kan ? Hal yang tak mungkin akan menjadi mungkin bila Tuhan berkehendak.”

Ya. Semangat saya datang setelah Bu Guru menasihati saya. Dengan bermodal nekad, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti USMI. Ya Allah… kalaulah ini baik untuk saya, maka mudahkanlah. Aku tahu Engkau selalu memberikan yang terbaik bagi hambaMu. Bismillaahirrahmaanirrahiym.

Alhamdulillah saya diterima di Institut Pertanian Bogor dan masuk ke departemen yang saya inginkan. Kamu percaya bahwa Tuhan tak pernah mendzalimi umat-Nya kan ? Hal yang tak mungkin akan menjadi mungkin bila Tuhan berkehendak. Ya, kata-kata itu yang membuat saya berada di sini sekarang. Karena tak hanya diterima di IPB, tapi saya pun meandapatkan beasiswa bidik misi. Sehingga kekhawatiran tentang ‘biaya dari mana’ sirna sudah. Aku sangat bersyukur, dan bertekad untuk tidak meanyerah atas rahmat Allah.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Don’t give up….